The Beginning
Entah sejak kapan
Hati ini terus berdebar, pikiran ini terus mengingat
Bagaimana awalnya, bagaimana mulanya
Hingga seperti ini, aku mulai pening memikirkannya
Memikirkan dia
Terkadang memikirkan bagaimana jika bertemu dengannya
Apa yang akan aku lakukan?
Apa yang akan aku ucapkan?
Bagaimana cara menyapanya, cara menanggapi senyum manis
memabukkan yang dapat membuat hati ini bisa menjadi seratus kali berjalan lebih
cepat. Hanya dengan sebuah senyum yang tidak berlebihan. Seulas, tak terlalu
lebar dan tak pelit. Bibirnya yang tipis menyimpulkan sebuah senyuman yang
entah kapan menjadi candu untukku.
Setiap kali dia tersenyum, setiap dia mengalihkan
pandangannya kepadaku ingin aku bertanya apa bisa kau mengontrol tingkat
kemanisan senyummu?
Kenapa ?
Karena itu
membuatku gugup.
Dan dengan tidak sopannya, tiba-tiba semburat merah keluar
dari kedua pipiku. Wajahku memanas, hatiku berdegup dengan tempo yang
berantakan. Darahku berdesir dengan cepat hingga aku dapat merasakannya sampai
di ujung kepalaku. Oh! Tidak. Kau telah membuatku seperti orang bodoh.
Bagaimana yang seharusnya?
Bagaimana yang sewajarnya?
Inginku mengontrol seluruh pikiran dan diri ini saat bertemu
dengannya atau sejenak tanpa sengaja melihat senyumannya. Oh, ayolah mari
bekerja sama.
Saraf dan organ yang ada padaku dengan lancangnya bekerja
lebih cepat dan lebih sensitif tanpa seijin sang pemilik. Kesadaran dalam
otakku mengatakan untuk harus bisa
mengontrol semuanya.
Ketika berpapasan
dengannya aku harus bisa mengendalikan semburat merah yang sialnya selalu
muncul sesukanya ketika berada dekat dengannya.
Ketika berbicara dengannya membahas sesuatu yang berhubungan
dengan tugas aku harus mengontrol hati ini yang dengan kurang ajarnya bertempo
tak beraturan. Ditambah lagi dengan lidah ini yang tiba-tiba kelu dan
menyebabkan pengucapanku menjadi terbata-bata. Ayolah, ku mohon jangan
membuatku terlalu ketara di depannya jika aku sedang gugup.
Dengan mengumpulkan semua kesadaranku yang masih tersisa dan
yang mau untuk diajak bekerja sama perlahan aku mulai menanggapi setiap
perkataannya. Sebisa mungkin menyembunyikan rasa senang yang muncul pada diriku
ketika sesekali mendengar dan melihatnya tertawa karena ‘kebodohanku’. Kami
berbicara satu sama lain. Menatap satu sama lain, tidak aku sering menundukkan
kepalaku ketika tidak sanggup menahan rasa gugup ketika dia menatapku dan
tersenyum memperhatikan setiap ucapanku.
Sesekali sedikit mendekatkan wajahnya kepadaku untuk mndengarkan
suaraku yang lirih. Kau tau kan alasan kenapa suaraku keluar dengan lirih? Yap!
Gugup sialan ini yang membuatku untuk
berbicara pelan dan teratur agar tidak menyebabkan efek samping. Efek yang
diabuat olehnya, efek dari senyum tawanya, efek dari tatapannya, dan efek dari
aroma tubuhnya.
Sial!
Aroma tubuhnya, entah itu dia menggunakan body mist atau
sabun mandi yang digunakan dan itu semakin membuat pikiran ini tak beraturan.
Bagaimana bisa di tengah kami berbicara aku memikirkan aroma tubuhnya. Di awal
mungkin tidak cukup dengan kegugupan, sekarang bertambah pikiranku yang ingin
berada pada dekapannya.
Cukup. Jangan diteruskan ku mohon, kendalikan ini semua.
Dia sudah pergi
Meninggalkanku yang masih duduk dengan menetralkan seluruh
saraf dan organku
Terdiam sejenak, mengambil nafas yang panjang dan
mengembuskannya perlahan
Mencoba mencari kesadaran dalam tubuhku yang beberapa waktu
lalu hilang entah kemana perginya meninggalkanku yang terduduk terkejut dengan
apa yang dia lakukan padaku sebelumnya.
Selesai.
Tidak! Ini belum selesai. Pikiranku mencoba untuk sadar
mengingat dan mencerna dengan apa yang
dia lakukan. Panas. Pipiku sudah memanas. Hatiku seperti sedang melakukan
maraton. Tak dapat mengela aku bahagia. Aku senang, mencoba menyembunyikan
senyum di wajahku dengan menggigit pelan bibirku. Dia membelai rambutku.
Inginku rasanya berlari dan berteriak seolah yang terjadi
beberapa menit yang lalu adalah sebuah hadiah terindah yang pernah aku
dapatkan. Sebuah balasan dari penantian. Seperti keinginan yang sudah lama
ingin kau dapatkan hingga kau lupa ingin mendapatkannya tetapi tiba-tiba tanpa
kau memikirkannya tanpa kau mengharapkannya itu nyata di depanmu. Aku terus
tidak bisa berhenti tersenyum, bersenandung seperti orang bodoh. Mencoba
mengingat kembali bagaimana kejadiannya, mengingat kembali bagaimana caranya
melakukannya. Seperti lagu kesukaanmu diputar pada suatu acara favoritmu.
Senang. Tololnya aku terus mengingat dan membayangkannya berharap terjadi reka
ulang adegan.. ah tidak berharap terjadi untuk kedua kalinya, ketiga kalinya
bahkan sampai ratusan kalinya.
Masih dengan senyum tolol, aku beranjak dari tempatku.
Tempat dimana menjadi saksi bahwa telah terjadi kejadian yang sangat tidak
mungkin terlupakan. Kejadian yang dapat menjadi sejarah yang ingin aku
dokumentarikan dalam hatiku. Tidak, aku bahkan sudah menyimpannya dalam hati
dan pikiranku. Sungguh cepat, aku ingin untuk versi lambannya agar aku bisa
menyiapkan diriku dan menghayati yang dia lakukan padaku.
Tapi tunggu....
Aku melihatnya berdiri di ujung koridor dengan seorang gadis
Dia tersenyum lepas kepadanya, menatapnya dengan penuh arti
Bahkan menalikan tali sepatu miliknya.
*

Komentar
Posting Komentar