The Beginning





----**-----




Entah sejak kapan
Hati ini terus berdebar, pikiran ini terus mengingat
Bagaimana awalnya, bagaimana mulanya
Hingga seperti ini, aku mulai pening memikirkannya
Memikirkan dia
Terkadang memikirkan bagaimana jika bertemu dengannya



Apa yang akan aku lakukan?




Apa yang akan aku ucapkan?




Bagaimana cara menyapanya, cara menanggapi senyum manis memabukkan yang dapat membuat hati ini bisa menjadi seratus kali berjalan lebih cepat. Hanya dengan sebuah senyum yang tidak berlebihan. Seulas, tak terlalu lebar dan tak pelit. Bibirnya yang tipis menyimpulkan sebuah senyuman yang entah kapan menjadi candu untukku.

Setiap kali dia tersenyum, setiap dia mengalihkan pandangannya kepadaku ingin aku bertanya apa bisa kau mengontrol tingkat kemanisan senyummu?


 Kenapa ?



 Karena itu membuatku gugup.



Dan dengan tidak sopannya, tiba-tiba semburat merah keluar dari kedua pipiku. Wajahku memanas, hatiku berdegup dengan tempo yang berantakan. Darahku berdesir dengan cepat hingga aku dapat merasakannya sampai di ujung kepalaku. Oh! Tidak. Kau telah membuatku seperti orang bodoh.



Bagaimana yang seharusnya?



Bagaimana yang sewajarnya?



Inginku mengontrol seluruh pikiran dan diri ini saat bertemu dengannya atau sejenak tanpa sengaja melihat senyumannya. Oh, ayolah mari bekerja sama.

Saraf dan organ yang ada padaku dengan lancangnya bekerja lebih cepat dan lebih sensitif tanpa seijin sang pemilik. Kesadaran dalam otakku  mengatakan untuk harus bisa mengontrol semuanya.


 Ketika berpapasan dengannya aku harus bisa mengendalikan semburat merah yang sialnya selalu muncul sesukanya ketika berada dekat dengannya.
Ketika berbicara dengannya membahas sesuatu yang berhubungan dengan tugas aku harus mengontrol hati ini yang dengan kurang ajarnya bertempo tak beraturan. Ditambah lagi dengan lidah ini yang tiba-tiba kelu dan menyebabkan pengucapanku menjadi terbata-bata. Ayolah, ku mohon jangan membuatku terlalu ketara di depannya jika aku sedang gugup.



Dengan mengumpulkan semua kesadaranku yang masih tersisa dan yang mau untuk diajak bekerja sama perlahan aku mulai menanggapi setiap perkataannya. Sebisa mungkin menyembunyikan rasa senang yang muncul pada diriku ketika sesekali mendengar dan melihatnya tertawa karena ‘kebodohanku’. Kami berbicara satu sama lain. Menatap satu sama lain, tidak aku sering menundukkan kepalaku ketika tidak sanggup menahan rasa gugup ketika dia menatapku dan tersenyum memperhatikan setiap ucapanku.



Sesekali sedikit mendekatkan wajahnya kepadaku untuk mndengarkan suaraku yang lirih. Kau tau kan alasan kenapa suaraku keluar dengan lirih? Yap! Gugup sialan ini  yang membuatku untuk berbicara pelan dan teratur agar tidak menyebabkan efek samping. Efek yang diabuat olehnya, efek dari senyum tawanya, efek dari tatapannya, dan efek dari aroma tubuhnya.




Sial!




Aroma tubuhnya, entah itu dia menggunakan body mist atau sabun mandi yang digunakan dan itu semakin membuat pikiran ini tak beraturan. Bagaimana bisa di tengah kami berbicara aku memikirkan aroma tubuhnya. Di awal mungkin tidak cukup dengan kegugupan, sekarang bertambah pikiranku yang ingin berada pada dekapannya.



Cukup. Jangan diteruskan ku mohon, kendalikan ini semua.






Dia sudah pergi




Meninggalkanku yang masih duduk dengan menetralkan seluruh saraf dan organku
Terdiam sejenak, mengambil nafas yang panjang dan mengembuskannya perlahan
Mencoba mencari kesadaran dalam tubuhku yang beberapa waktu lalu hilang entah kemana perginya meninggalkanku yang terduduk terkejut dengan apa yang dia lakukan padaku sebelumnya.





Selesai.




Tidak! Ini belum selesai. Pikiranku mencoba untuk sadar mengingat dan mencerna  dengan apa yang dia lakukan. Panas. Pipiku sudah memanas. Hatiku seperti sedang melakukan maraton. Tak dapat mengela aku bahagia. Aku senang, mencoba menyembunyikan senyum di wajahku dengan menggigit pelan bibirku. Dia membelai rambutku.



Inginku rasanya berlari dan berteriak seolah yang terjadi beberapa menit yang lalu adalah sebuah hadiah terindah yang pernah aku dapatkan. Sebuah balasan dari penantian. Seperti keinginan yang sudah lama ingin kau dapatkan hingga kau lupa ingin mendapatkannya tetapi tiba-tiba tanpa kau memikirkannya tanpa kau mengharapkannya itu nyata di depanmu. Aku terus tidak bisa berhenti tersenyum, bersenandung seperti orang bodoh. Mencoba mengingat kembali bagaimana kejadiannya, mengingat kembali bagaimana caranya melakukannya. Seperti lagu kesukaanmu diputar pada suatu acara favoritmu. Senang. Tololnya aku terus mengingat dan membayangkannya berharap terjadi reka ulang adegan.. ah tidak berharap terjadi untuk kedua kalinya, ketiga kalinya bahkan sampai ratusan kalinya.



Masih dengan senyum tolol, aku beranjak dari tempatku. Tempat dimana menjadi saksi bahwa telah terjadi kejadian yang sangat tidak mungkin terlupakan. Kejadian yang dapat menjadi sejarah yang ingin aku dokumentarikan dalam hatiku. Tidak, aku bahkan sudah menyimpannya dalam hati dan pikiranku. Sungguh cepat, aku ingin untuk versi lambannya agar aku bisa menyiapkan diriku dan menghayati yang dia lakukan padaku.






Tapi tunggu....






Aku melihatnya berdiri di ujung koridor dengan seorang gadis
Dia tersenyum lepas kepadanya, menatapnya dengan penuh arti

Bahkan menalikan tali sepatu miliknya.




*

Komentar